Jangan pernah mengutuk aku dan suami-suami sepertiku.
Apalagi dirimu yang telah menyatu denganku lahir batin. Jangan pernah. Karena
aku tak pernah mengutuk siapapun, bahkan diriku sendiri. Cukup bisikan pada
dunia tentang kegelisahanmu atau engkau teriakan kepada alam, bahwa engkau
sakit hati.
Jangan
mengutuk aku orang yang begitu engkau sayangi, dulu.
Perjalanan kita yang lalu lebih jauh dari rentang prahara yang saat ini
kita arungi. Kenangan indah dulu lebih lama dari kemelut rumah tangga
kita tahun
ini. Janji-janji kebersamaan kita belum hilang dari ingatan.
Rayuan-rayuan
gombal kita belum usang, walau berulang kali kita ganti dengan hujatan
dan
kebencian. Jangan mengutuk aku, orang yang menjadi lelaki terbaik di
matamu.
Cukup perempuan-perempuan jalang di belokan sana yang
mengutuk aku. Yang cintanya aku kubur hidup-hidup. Jangan pernah terpikir
seperti mereka, karena mereka punya alasan yang lebih kuat dari apa yang kamu
alami saat ini. Kamu dan dia sama, pernah aku cintai dan aku gilai, tapi kau
yang kupilih menjadi istri, sedangkan dia kucampakan di penghujung jalan
asmara.
Tahukah kenapa engkau jangan pernah aku. Karena engkau masih
istriku, yang suatu saat masih bisa jatuh dalam pelukanku. Ibu dari anak-anaku
dan anak-anakmu, anak kita. Cukuplah para istri yang sok merasa punya istri
setia yang mengutuk aku. Mencibir setiap melihat aku dihadapan mereka. Seolang
berteriak, “wahai lelaki terkutuk, pergilah jauh, jangan pernah engkau racuni
suami-suami kami, dari tabiat burukmu, yang lalai dari kesetiaan,”
Istriku, jangan pernah mengutuk aku.
(bersambung)

Post a Comment